Rajin Sikat Gigi dan Hindari Makanan Pencetus Plak

Secara umum penyakit yang menyerang gigi dimulai dengan adanya plak gigi. Plak timbul dari sisa makanan yang mengendap pada lapisan gigi yang kemudian berinteraksi dengan bakteri yang banyak terdapat dalam mulut, seperti Streptococcus mutans. Plak akan melarutkan lapisan email pada gigi sehingga lama-kelamaan lapisan itu menipis. Terjadinya plak sangat singkat. “Hanya 10 – 15 menit setelah makan,” kata Dr. Safrida Hoesin, SpK.G., pengajar bagian Ilmu Konservasi Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.

Karena itulah menyikat gigi setelah makan merupakan hal yang paling utama untuk menghindari menimbunnya plak pada gigi. Namun, menyikat gigi tentu saja tak bisa kita lakukan setiap habis ngemil terutama bila kita termasuk orang yang rajin ngemil. Makanya orang yang hobi ngemil cenderung kurang sehat giginya. Plak yang menumpuk kemudian membentuk karies gigi yang akhirnya merusak lapisan email hingga melubangi gigi. Malangnya, proses ini biasanya tidak kita sadari karena lapisan plak sering tak terlihat karena warnanya juga putih. Sedangkan proses lubangnya gigi kadang tak terasa selama belum menyentuh saraf gigi yang terletak di dalam rongga gigi yang cukup dalam.

MAKANAN YANG DIHINDARI Berdasarkan uraian di atas jelaslah bahwa makanan berperan sangat besar dalam merusak gigi. Berikut ini adalah makanan yang sebaiknya dihindari kalau ingin gigi kita tetap sehat.

* Makanan Serbamanis Makanan yang sifatnya manis dan lengket, seperti gula, permen coklat, atau makanan yang sifatnya kudapan sering merusak gigi karena asam sifatnya. Lain halnya dengan nasi yang lebih mudah dinetralkan keasamannya karena masih mengandung protein. “Jadi, tak bisa tidak, sehabis makan manis, sebaiknya kita langsung menggosok gigi. Sehabis itu usahakan untuk tidak ngemil lagi,” tegas Safrida.

* Softdrink dan Alkohol Minuman bersoda (softdrink) dan beralkohol juga membuat kondisi kurang baik bagi gigi dan mulut. Softdrink umumnya mengandung gula yang berujung pada karies jika tidak segera dibersihkan sehabis diminum. Minuman ini, saran Safrida, sebaiknya juga tidak dikonsumsi saat penambalan gigi, terutama ketika tambalan gigi belum mengeras. “Minuman soda akan membuat tambalan gigi rusak, kasar, serta berubah warnanya sehingga tambalan tidak efektif,” jelas Safrida. Hati-hati juga dengan minuman bersoda impor. “Umumnya minuman seperti itu mengandung fluor karena diduga sumber airnya mengandung fluor. Padahal kebanyakan fluor fatal juga buat gigi,” imbuhnya. Mengapa minuman beralkohol pun sebaiknya dihindari demi kesehatan gigi? Minuman beralkohol cenderung mengakibatkan penguapan air liur dalam mulut sehingga kondisi mulut menjadi asam. Ingatlah, kondisi mulut yang asam memicu timbulnya plak pada gigi.

* Rokok Rokok membuat warna gigi menjadi kuning dan kurang bagus akibat kandungan nikotinnya. Jadi, bila ingin gigi yang sehat, mau tak mau harus meninggalkan kebiasaan merokok.

* Roti Tak pernah kita duga sebelumnya roti pun bisa jadi pemicu kerusakan gigi. Terutama kalau roti dimakan bersama selai yang notabene mengandung gula yang tinggi. “Orang Barat makan roti dengan keju. Keju bersifat basa hingga tidak merusak gigi. Beda dengan orang Indonesia yang menyantapnya dengan cokelat, selai, atau dengan gula. Rotinya sudah karbohidrat, masih pula ditambah gula,” tutur Safrida.

* Makanan Serbaasam Sudah dijelaskan di atas asam merupakan pemicu ampuh terhadap kerusakan gigi. Makanan asam tak cuma cuka yang terdapat dalam saus asinan atau mpek-mpek, tetapi juga pada buah-buahan yang asam rasanya seperti mangga muda atau jeruk asam. “Demi kesehatan gigi, hindari makanan yang mengandung pH (derajat keasaman) kurang dari 4. Makanan seperti ini langsung merusak lapisan email dan gigi tanpa bisa diperbaiki,” terang Safrida. Makanan ber-pH 5,5 ke atas dapat menimbulkan karies yang bisa dicegah dengan menyikat gigi sehingga lapisan email akan segera dibangun kembali begitu lapisan plak dibuang.

* Makanan Keras dan Suhu Ekstrem Secara fisik, gigi juga bisa rusak akibat makanan yang keras atau suhu makanan yang terlalu panas atau dingin. Selain merusak lapisan email bisa juga mengakibatkan rusaknya saraf pada gigi. “Jika terasa ngilu saat menyantap makanan tertentu, segera berhenti memakannya. Rasa ngilu menandakan adanya ketidakberesan pada gigi,” jelas Safrida.

* Makanan Ber-fluor Tinggi Berdasarkan aturan WHO, dosis fluor yang boleh tertelan hanya 1 ppm per hari. Bahkan pada daerah yang airnya sudah mengandung fluor angka ini bisa dikurangi. “Di Indonesia airnya belum mengandung fluor, jadi batasan ini yang dipakai,” jelas wanita yang pernah menempuh pendidikan di bidang Preventif Dentistry di Sydney University. Kandungan fluor yang terlalu banyak merusak kesehatan gigi anak-anak yang gigi tetapnya belum tumbuh. Karena itulah Safrida menganjurkan untuk menggunakan pasta gigi tanpa fluor pada anak-anak. “Anak-anak amat gemar menjilat-jilat pasta giginya karena pasta gigi anak umumnya manis. Belum lagi pasta gigi yang tertelan karena pada usia tertentu anak-anak belum bisa berkumur. Padahal kandungan fluor pada pasta gigi sekali pakai bisa mencapai 500-1000 ppm,” terang Safrida. Jika kebiasaan mengkonsumsi fluor dalam jumlah sebesar itu terus -menerus, tegas dokter gigi ini, gigi yang tumbuh akan berwarna abu-abu kusam, terkadang diikuti dengan bercak-bercak putih tak beraturan, dan lepasnya lapisan email. Penelitian tentang dampak buruk makanan yang kandungan fluornya tinggi ini telah dilakukan Safrida pada masyarakat Palembang yang sering mengkonsumsi mpek-mpek dengan kuah asam manis ketika meraih gelar doktor. Akibat terlalu sering mengkonsumsi kuah yang banyak mengandung fluor tersebut (sekitar 9-13 ppm), anak-anak yang gigi tetapnya belum tumbuh (umumnya berusia di bawah 8 tahun) mengalami gangguan berupa gigi kusam dan bercak-bercak putih yang tidak merata. Pasta gigi atau makanan dan minuman ber-fluor tinggi sebaiknya cuma diberikan pada mereka yang giginya sudah tetap. “Pada gigi tetap, fluor justru diperlukan untuk melindungi rusaknya mineral dan lapisan email pada gigi,” tandas Safrida. MENIMBULKAN PENYAKIT LAIN Perawatan gigi harus dimulai sejak bayi dengan pemberian makanan serta gizi yang cukup. “Susunan dan bentuk gigi memang bisa diturunkan, tetapi kesehatan gigi timbul karena perawatan,” papar Safrida.

Dengan gizi yang cukup, tambahnya, kebutuhan zat-zat pembentuk gigi akan terpenuhi dan membentuk gigi yang baik. Pola dasar sikat gigi 3 kali sehari juga tidak boleh ditinggalkan, yaitu setelah sarapan, makan siang dan makan malam. Setelah ngemil, sikatlah gigi tanpa pasta gigi untuk menghilangkan plaknya. Jika ingin lebih praktis, cukup dengan berkumur saja. Hindari pula menyikat gigi keras-keras yang akan mengikis lapisan email dan merusak gusi. Sungguh baik juga jika memeriksakan gigi secara rutin karena lubang gigi pada tahap awal tak dapat dideteksi. “Jika gigi berlubang dan tidak bisa dijangkau oleh sikat gigi, maka akan menjadi tempat berkembang-biaknya bakteri,” ungkap Safrida. Proses kerusakan gigi umumnya berlangsung cukup lama dan sering tidak disadari. Proses karies bisa terjadi dalam 1-2 tahun sebelum terdeteksi oleh saraf sehingga sakit gigi baru terasa. Untuk mendeteksi adanya plak, biasanya digunakan suatu cairan khusus yang disapukan pada pemukaan gigi. Gigi yang mengandung plak akan berwarna merah dan harus segera dibersihkan sebelum menjadi karies. Jika tumpukan plak mengendap di dekat gusi akan tercipta karang gigi berupa lapisan kapur yang mengendap cukup tebal antara gigi dan gusi. “Selain membuat kusam gigi, karang gigi akan memicu radang gusi yang warnanya sangat merah, bengkak, dan mudah berdarah. Tentu saja sakit pula rasanya,” papar Safrida. Karena sakit pula, kata Safrida, perawatan gigi semakin sulit. “Secara tidak disadari kita akan menghindari menyikat gigi-gigi yang sakit hingga semakin banyak plak yang tertimbun di sekitar gigi yang sakit itu,” urai Safrida. Jika gigi tidak bisa lagi ditambal, pencabutan gigi adalah alternatif terakhir. “Selain tak berfungsi, bisa menjadi sarang bakteri dan penyakit,” ujar Safrida.

Terkadang jika gigi sakit atau berlubang, kita memindahkan proses memakan pada satu sisi mulut saja. Hal ini bisa menimbulkan ketegangan otot mengunyah pada satu sisi dan tidak berfungsinya sisi yang lain sehingga timbul ketegangan pada sekitar leher. Gigi berlubang yang sudah mencapai saraf gigi dan tak juga diatasi bisa berakibat fatal. Masalahnya sistem saraf dan pembuluh darah kita menyambung di seluruh tubuh sehingga bakteri bisa menimbulkan infeksi pada organ-organ vital seperti jantung, ginjal dan otak. Saraf perasa pada gigi juga bisa mati sehingga gigi yang berlubang tak terasa sakit lagi. Hilangnya rasa sakit ini bukan berarti sembuh tetapi justru menjadi tempat berkumpulnya bakteri yang menimbulkan munculnya berbagai penyakit, termasuk masuknya bakteri dalam sistem syaraf dan pembuluh darah dalam gigi. “Dalam beberapa kasus, seperti alergi kulit, sakit mata, sakit telinga hingga migrain ternyata berhubungan dengan gigi yang berlubang,” jelas Safrida. Ini merupakan reaksi positif dari tubuh akibat adanya benda asing yang masuk, seperti bakteri atau kuman penyakit. sdp@Miftakh Faried

kunjungi : http://www.sedap-sekejap.com/artikel/2000/edisi5/files/sehat.htm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: